Nina-Hendra

Yooooo!

Setelah sekian lama..

Akhirnya…

*terharu*

Ceritanya begini.. Teman saya ada yang menikah hari Sabtu kemarin. Saya dan teman-teman saya yang lain sepakat untuk memberikan kado pernikahan, salah satunya adalah sketsa wajah dirinya dan suaminya. Saya bilang aja sanggup membuat sketsanya.

Oke.. masalah pertama, mencari foto yang bagus untuk referensi. Kalo bisa sih foto mereka yang sedang berpose berdua (pose mesra lebih bagus :P). Tapi ternyata nggak ada. Yang ada adalah foto masing-masing yang berukuran mini (ngambil dari profil facebook mereka). Tau kan foto di facebook itu sudah diperkecil secara otomatis? Makanya hasilnya adalah foto dengan resolusi kecil yang kalo diperbesar akan merusak gambarnya (fotonya jadi kabur dan patah-patah). Apa boleh buat, gak ada pilihan lain. Ya sudah, saya ambil masing-masing satu foto yang paling bagus dari sang mempelai wanita dan pria.

Saya pilih foto ini..

Baca lebih lanjut

Namidairo (WIP2)

Lanjutan dari post sebelumnya.

Pada tahap kali ini saya meneruskan membuat detil pada bagian alis kanan dan mengarsir kulit pada bagian dahi. Kemudian turun ke hidung. Pada bagian hidung saya sedikit mengalami kesulitan saat membuat detil di lubang hidung. Hal ini terjadi karena pose YUI yang menyamping, sehingga timbul bayangan pada bagian lubang hidung.

Step 2 - Nose (2)

Baca lebih lanjut

Namidairo (WIP1)

Di tengah kesibukan sehari-hari, akhirnya saya sempat memulai melukis lagi. Kali ini saya kembali ke pangkuan YUI. Kangen euy :P

Referensinya saya ambil dari cover single Namidairo.
namidairo-ref

Saya memutuskan memakai kertas ukuran A3 untuk lukisan kali ini. Karena ukuran media lebih besar dari referensi, untuk membuat sketsa awal yang akurat dan semirip mungkin dengan referensinya, saya memakai teknik counter-grid method untuk membuat sketsa awal. Counter-grid ini mirip dengan metode grid, hanya saja garis bantu yang digunakan tidak horizontal-vertikal, tetapi diagonal.

Hasilnya seperti ini :
Step 1 - Eyes (1) Baca lebih lanjut

Tutorial #8 : Outline

Yup yup.

Ketika menggambar, apalagi menggunakan pensil, pasti kita membuat outline terlebih dahulu. Sayangnya, dalam photorealistic drawing, kehadiran outline ini cukup mengganggu karena dapat mengurangi efek “realistik” lukisan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
no-outline-example
Gambar di sebelah kiri dibuat dengan outline, sedangkan di sebelah kanan tanpa outline.

Contoh lain, mari kita lihat lukisan Alessandro Del Piero #2 atau YUKI.
del-piero-2-small
yuki-small
Terlihat garis yang cukup tebal pada bagian pipi, dagu, dan pakaian. Akibatnya, lukisan kurang terlihat realistik. Bandingkan dengan lukisan HYDE misalnya. Garis outline tidak terlalu kelihatan sehingga lukisan lebih realistik.
HYDE
Baca lebih lanjut

Tutorial #7 : Mengarsir

Berhubung banyak yang nanya gimana caranya mengarsir, saya coba jelasin di sini. Karena yang saya jelaskan adalah cara mengarsir ala Febri, jadi belum tentu cara ini cocok buat anda.

Saya mengarsir dengan prinsip layer atau lapisan. Pertama, saya beri arsiran dengan lembut (tangan nggak terlalu menekan pensil) hingga semua area terarsir dengan rata. Untuk mendapatkan value yang lebih gelap, saya beri arsiran lagi di atasnya. Semacam menumpuk lapisan begitu. Semakin banyak lapisan yang ditumpuk, arsiran yang dihasilkan akan semakin gelap.

layer-ex1
Pada gambar di atas, arsiran dengan satu lapis ditunjukkan dengan angka 1, dua lapis ditunjukkan oleh angka 2, dan seterusnya.

Prinsipnya sama seperti gambar di bawah ini.
layer-ex2
Arsiran pertama dengan arah vertikal. Arsiran kedua horizontal. Jika arsiran pertama dan kedua digabung, akan menghasilkan arsiran yang lebih rapat. Apalagi jika digabung lagi dengan arsiran ketiga (diagonal).
Baca lebih lanjut

Tutorial #6 : Creating values with pencils

Judulnya sok bahasa Inggris, hehehe.

Ini lanjutan dari Tutorial #4 : Value, apa itu value?

Dalam tutorial itu saya telah menyebutkan ada dua cara untuk memperoleh value yang bervariasi dengan menggunakan pensil. Yang pertama dengan menggunakan bermacam-macam grade pensil, dan yang kedua hanya dengan menggunakan satu macam pensil.

Saya telah membuat semacam chart sebagai berikut.
value-scale
Baca lebih lanjut

Tutorial #5 : Membuat sketsa yang akurat

Jumpa lagi di tutorial amatiran ala Febri. Saya telah menjelaskan bagaimana membuat sketsa yang akurat (baca : mirip) dari referensi berupa foto, yaitu dengan menggunakan metode grid. Tutorial lengkapnya dapat dibaca di sini.

Pertanyaannya, apakah ada metode selain gridding untuk memperoleh sketsa yang mirip dengan aslinya? Jawabannya ada.

Salah seorang pelukis pensil di deviantArt yang bernama Nicolien Beerens membuat sebuah tutorial tentang membuat sketsa yang mirip ini (dia menyebutnya dengan “proporsional”), yang dapat anda lihat pada gambar di bawah ini. Klik gambar untuk melihat gambar dalam ukuran penuh.
proportions-by-cataclysm-x Baca lebih lanjut

Tutorial #4 : Value, apa itu value??

Halo-halo, jumpa lagi di sini. Kali ini saya akan membicarakan mengenai value. Sebenarnya apa sih value itu? Anda yang mendalami fotografi atau desain grafis mungkin tidak asing dengan istilah itu.

Singkatnya, value adalah tingkat gelap-terang suatu warna. Dalam digital coloring ada yang namanya HSV (Hue-Saturation-Value). Jika Hue adalah warna itu sendiri (merah, biru, kuning, dsb), dan Saturation adalah jumlah warna abu-abu dalam satu Hue, maka Value adalah brightness dari Hue tersebut.

Lalu apa hubungannya semua itu dengan lukisan pensil?

Erat sekali hubungannya. Seperti yang kita tahu, lukisan pensil sifatnya hitam putih. Perbedaan warna, intensitas cahaya, dan bentuk benda di dalam lukisan hitam putih akan tergantung pada tingkat gelap-terang atau value dari benda tersebut. Bentuk benda yang anda lukis akan ditentukan oleh value. Jadi, supaya benda yang anda lukis dengan pensil terlihat realistik, anda harus bisa memberikan perbedaan value saat mengarsir.

Sebagai contoh, gambar kubus di bawah ini.
value-ex0
Baca lebih lanjut