Masih ada orang baik dan jujur kok!

Di kota-kota besar seperti Jakarta yang kejam ini nilai-nilai kebaikan, kejujuran, dan kemanusiaan seolah pudar. Apalagi di jaman yang serba individualistis seperti sekarang ini. Bahkan tak jarang saya menilai sudah tidak ada orang baik di Jakarta ini. Sampai waktu itu.

Suatu malam, sekitar empat atau lima tahun lalu, saya mengantar calon istri ke rumah kakaknya di Bekasi setelah siangnya dia mengikuti tes penerimaan sebuah bank pemerintah di Cilegon. Turun dari taksi, kami mampir makan dulu di tempat makan di seberang Metropolitan Mall. Selesai memesan, saya merogoh kantong untuk menyiapkan pembayaran. Alamakjang…. Kantongku kok kempes? Ternyata dompet saya sudah raib. Saya yakin dompet saya terjatuh waktu turun dari taksi, karena sebelum turun saya ingat sempat mengambil dompet untuk membayar ongkos taksi.

Bukan masalah bayar makan yang saya risaukan, karena calon istri dengan sigap sudah membayar makan malam yang tak lagi membuat saya berselera itu. Bukan pula galau karena hilangnya uang di dalam dompet saya yang tipis itu. Tapi memikirkan keruwetan harus mengurus ke kantor polisi untuk membuat SIM baru, ke RT RW dan Kelurahan untuk membuat KTP baru, juga harus ke bank untuk membuat kartu ATM baru, yang sudah barang tentu semuanya akan menguras biaya, tenaga, dan waktu tersendiri.

Setelah menelpon call center beberapa bank yang kartu ATMnya saya miliki (sumpah, saya cuma koleksi kartu ATM saja kok, saldonya mah nggak ada) untuk memblokir rekening saya lalu mengantar calon istri ke rumah kakaknya, saya pulang masih dengan perasaan campur aduk. Sampai rumah saya sudah mengikhlaskan, mungkin saya kurang beramal sehingga Allah menegur dengan cara ini.

Keesokan harinya, saya mengantar calon istri kembali ke Cilegon untuk mengikuti tes hari kedua. Di atas bus jurusan Bekasi-Merak, notifikasi Facebook istri saya menyala. Rupanya ada pesan dari seseorang. Orang asing, yang belum jadi “teman” calon istri saya.

Isi pesannya, orang itu menanyakan apakah calon istri saya itu benar kenal dengan saya. Setelah dijawab, orang tak dikenal itu menjelaskan bahwa dia telah menemukan sebuah dompet di pinggir jalan di depan Metropolitan Mall Bekasi. Dari data KTP di dalam dompet itu, ada nama saya. Rupanya orang itu searching di Facebook, kemudian menemukan halaman Facebook saya. Di profil saya memang tertulis status saya “engaged to (nama istri saya)”, sehingga dia mengirim pesan ke calon istri saya untuk mengkonfirmasi kemudian menjelaskan akan mengembalikan dompet saya.

Pikiran pertama saya tentulah saya curiga apa betul orang ini menemukan dompet saya dan bukan tipu-tipu? Kenapa dia jujur dan mau mengembalikan dompet saya? Jangan-jangan dia akan menuntut imbalan dari saya? Ah, bagaimana nanti lah.

Setelah bertukar nomor handphone, akhirnya orang itu memberikan alamat rumahnya supaya saya mengambil dompet saya hari itu juga. Semakin cepat semakin baik, karena orang itu bilang besok dia akan berangkat ke Malaysia. Berhubung saya hari itu seharian akan ada di Cilegon, saya minta tolong adik dan ayah saya untuk mengambilkan dompet saya. Tak lupa saya berpesan, kalau di dalam dompet masih ada uangnya, saya ikhlaskan untuk diberikan kepada orang yang menemukan dompet saya itu.

Saat saya menunggu calon istri yang sedang tes, ayah saya menelepon kalau beliau sudah sampai di rumah penemu dompet saya. Setelah dompet saya diperiksa secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ternyata isi dompet saya masih utuh dan tidak ada yang hilang sedikitpun. Ayah saya bilang, beliau sudah mengambil semua uang di dompet saya (kalau nggak salah totalnya 800ribu) dan menyerahkan kepada penemu dompet saya itu. Tapi dia bersikeras menolak walaupun sudah dipaksa, dengan alasan dia benar-benar ikhlas mengembalikan dompet saya. Ya sudah, akhirnya saya berpesan kepada ayah saya untuk membelikan buah atau makanan sebagai tanda terima kasih. Tak lupa saya juga mengucapkan terima kasih secara langsung kepada penemu dompet saya itu. Sampai di rumah, dompet sudah kembali ke tangan saya. Saya cek memang nggak ada yang hilang sama sekali (kecuali uang yang tadi telah dipakai sedikit untuk membeli tanda ucapan terima kasih).

Alhamdulillah ya Allah, mungkin masih rejeki saya. Tetapi pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman saya ini adalah:

  1. Berhati-hatilah terhadap barang bawaan anda khususnya barang berharga seperti dompet, handphone, dll. Apalagi saat naik turun kendaraan umum. Lebih baik siapkan uang receh di dalam kantong untuk membayar ongkos, jadi tidak perlu mengeluarkan dompet.
  2. Jika sudah telanjur terjadi kehilangan atau kecopetan, ikhlaskan saja. InsyaAllah akan diganti dengan yang lebih baik. Atau malah dikembalikan oleh penemu atau justru oleh pencopetnya. Siapa tahu kan si pencopet sedang khilaf, hehe.
  3. Ternyata masih ada orang baik dan jujur. Oleh karena itu janganlah bosan dan menyerah untuk tetap terus menyebarkan kebaikan dan bersikap jujur kepada siapa pun dan di mana pun. Jika semua orang seperti anda, terus jujur dan baik, pastilah negeri ini juga akan menjadi jauh lebih baik.

Sekian, semoga tulisan saya bermanfaat.

Note

Kepada seseorang, penemu dompet saya yang namanya sudah terlupa oleh saya (mohon maaf), sekali lagi terima kasih. Saya sudah membongkar inbox facebook istri saya untuk mencari lagi percakapan anda dan istri saya kala itu, tetapi sayang sekali mungkin karena waktunya sudah terlampau lama, pesan percakapan anda dan istri saya sudah tidak ada. Jika anda membaca tulisan saya ini, mohon hubungi saya melalui facebook, email, atau blog ini, sekedar untuk menyambung kembali tali silaturahim.