Kelahiran Baim si Anak Rantau

Si Anak Rantau

Si Anak Rantau

Dia hadir di tengah-tengah kami pada pagi hari Minggu tanggal 31 Agustus tahun lalu di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tidak semungil bayi-bayi lainnya, pun tidak menangis saat keluar dari perut ibunya. Setelah selang menyedot cairan di pernapasannya baru lah dia menangis kemudian belajar menyusu. Ini adalah kisah kelahiran Baim, si anak rantau.

Malam sebelumnya si calon Ibu sudah merasakan tanda-tanda persalinan. Saat itu sudah minggu ke-40, minggu di mana si bayi akan lahir menurut hasil USG. Jadilah malam itu aku mengantar istri ke bidan. Sampai sana diperiksa ternyata baru pembukaan satu. Bu Bidan menyuruh kami untuk pulang lagi. Nanti kalau kontraksinya sudah sering dan tidak putus baru boleh datang lagi.

Di rumah, istriku nggak mau ditinggal sama sekali. Sesekali dia mengernyit menahan sakit saat kontraksi itu datang. Sesuai yang telah aku pelajari di kelas persalinan, saya hitung jeda waktu antara kontraksi satu dengan berikutnya. Lima menit. Kontraksi berikutnya tujuh menit. Masih belum teratur. Belanda masih jauh.

Ilustrasi

Ilustrasi

Sekitar pukul 2 dini hari istri mengeluh sakit lagi. Kali ini sakitnya nggak hilang-hilang. Oke kita ke bidan. Sampai di bidan, dengan mata sepet karena sedang tidur saat kami bangunkan, bu Bidan memeriksa, sudah pembukaan empat. Langsung masuk kamar inap. Bu Bidan bilang supaya kami menunggu lagi sampai pembukaan lengkap, sebelum dia melanjutkan tidurnya yang terganggu.

Selama menunggu, istriku tak habis-habisnya menahan sakit dan nggak berhenti meremas tanganku, lenganku, apapun yang bisa diraihnya. Aku hanya bisa menyuruhnya berdzikir dan mengatur napas, mengingatkan apa yang dipelajarinya di kelas persalinan. Sambil merem-merem ngantuk tentunya, hehe. Setelah sholat subuh, istriku bilang sudah nggak kuat lagi. Aku panggil bidan. Istriku dibawa ke ruang persalinan dan diperiksa. Aku mengisi formulir data-data, termasuk rumah sakit rujukan yang diinginkan seandainya nanti terpaksa harus dibawa ke rumah sakit.

Adegan berikutnya nggak perlu lah diceritakan dengan detil. Cukup disimpan di dalam memori kepala ini saja. Yang jelas adegannya lebih seru dan menegangkan daripada film horor terseram yang pernah aku tonton. Tapi yang ini film horornya happy ending. Menyesal juga sih kenapa nggak aku rekam dengan HP ya? Kan lumayan untuk dokumentasi. Skip.. skip..

Setelah istriku berjuang bertaruh nyawa selama kira-kira satu jam, lahirlah si ganteng itu. Lahir normal, berat badan 3,4 kg, panjang badan 50 cm. Dengan mata sipit, kulit putih, rambut lebat dan rambut-rambut halus di sekujur tubuhnya (cute to the max lah). Walaupun sempat menelan air ketuban sehingga harus disedot keluar, jagoanku berhasil mbrojol dengan suksesnya.

Halo Dunia!

Halo Dunia!

Istriku juga, sangat tenang, semua pelajaran di kelas persalinan sukses dilakukannya, nggak sekalipun teriak-teriak (pernah mendengar sendiri calon ibu yang teriak-teriak gak jelas saat proses persalinan, alhamdulillah istriku nggak kayak gitu). So proud of her!

Alhamdulillah… tak henti-hentinya aku mensyukuri anugrah yang telah diberikan-Nya hari itu. Alhamdulillah kami memilih Bidan ini untuk tempat istriku bersalin. Pelayanannya bagus, bidannya ada banyak, kamarnya bersih dan nyaman. Sebelum melahirkan ada kelas persalinan dan senam hamil (gratis lho). Setelah melahirkan pun masih ada layanan kontrol ke rumah, bu bidan datang ke rumah untuk memeriksa dan memandikan si Baim (istriku belum berani memandikan sendiri) sekaligus memeriksa istriku. Yang terpenting, biayanya murah meriah. Biaya persalinan Baim kemarin total nggak sampai tiga juta rupiah. Itu sudah termasuk menginap 3 hari, makan 3x sehari, imunisasi pertama, obat-obatan, dapat bonus bingkisan (berisi peralatan bayi, sandal toilet, payung). Baim pun dapat bonus topi rajut yang lucu, hehe.

Ngomong-ngomong, nama lengkapnya Ibrahim Shidqi Alkhawarizmi. Panggilannya Baim. Sewaktu masih di perut mamanya, kami sudah sepakat jika nanti laki-laki akan dipanggil Baim, kalau perempuan dipanggil Raisa. Nama panjangnya belum ada waktu itu.

Ibrahim diambil dari nama nabi Ibrahim a.s., salah satu nabi yang paling taat kepada Allah. Mudah-mudahan nanti Baim juga jadi hamba yang taat kepada Allah dan rasul-Nya. Shidqi diambil dari kata “shiddiq” yang berarti jujur. Semoga nanti Baim jadi orang jujur di mana pun dan kapan pun. Sementara Alkhawarizmi diambil dari nama Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, seorang cendekiawan muslim, ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi. Penemu bilangan nol, penulis buku aljabar (sering disebut sebagai “Bapak Aljabar”) dan algoritma (algoritma atau algorism adalah pelafalan latin dari “Al-Khawarizmi”, namanya). Ya harapannya semoga Baim menjadi anak yang pandai, menjadi orang besar yang karya-karyanya bermanfaat bagi dunia.

Saat ini Baim sudah berusia 13 bulan, sudah bawel dan pintar ngomel, giginya sudah hampir tumbuh semua (tinggal beberapa geraham dan gigi taring yang belum muncul), sukanya nonton “Thomas and Friends” dan lagu favoritnya “Aku Seorang Kapiten”…

Mata Genit

Mata Genit

Terima kasih kepada:

  1. Praktek Bidan Nilawati, Balikpapan
  2. Mbak Hesti, atas pinjaman motornya
  3. Bu Lena, tetangga sebelah yang berbaik hati mengikhlaskan halamannya jadi tempat untuk memendam ari-ari