Tutorial #8 : Outline

Yup yup.

Ketika menggambar, apalagi menggunakan pensil, pasti kita membuat outline terlebih dahulu. Sayangnya, dalam photorealistic drawing, kehadiran outline ini cukup mengganggu karena dapat mengurangi efek “realistik” lukisan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
no-outline-example
Gambar di sebelah kiri dibuat dengan outline, sedangkan di sebelah kanan tanpa outline.

Contoh lain, mari kita lihat lukisan Alessandro Del Piero #2 atau YUKI.
del-piero-2-small
yuki-small
Terlihat garis yang cukup tebal pada bagian pipi, dagu, dan pakaian. Akibatnya, lukisan kurang terlihat realistik. Bandingkan dengan lukisan HYDE misalnya. Garis outline tidak terlalu kelihatan sehingga lukisan lebih realistik.
HYDE

Jadi, sebisa mungkin hindari membuat outline yang terlalu tebal. Jika anda menggambar komik atau ilustrasi mungkin tidak terlalu masalah, tapi dalam melukis realistik dari foto, hal ini bisa dibilang “diharamkan”.

Untuk membedakan bidang atau benda, cukup membuat outline tipis atau tidak sama sekali. Biarkan perbedaan value (gelap-terang) yang menuntun mata untuk membedakan benda dalam lukisan anda.

Misalnya pada lukisan Tomiko Van,
tomiko-van-small
saya zoom pada bagian dagu,
no-line-application1
terlihat garis yang tak terlalu tebal untuk membedakan antara wajah dan leher. Untuk lebih menguatkan perbedaan bidang tersebut, value antara wajah dan leher dibuat berbeda (arsiran pada leher lebih gelap).

Contoh lain pada lukisan YUI #7,
yui-7-small
saya zoom lagi,
no-line-application2
pada bagian tangan tidak diberi outline. Untuk menunjukkan bahwa itu tangan, backgroundnya saya beri arsiran. Sementara pada bagian bawah dagu juga tidak diberi outline. Untuk membedakan dagu dan rambut hanya mengandalkan value rambut yang gelap.

Tak selamanya outline diharamkan sih. Hanya saja hati-hati dalam penggunaannya.

Sekian tutorial kali ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya.