Bus Kopaja yang menyebalkan!

Hari Sabtu kemarin saya pulang dari BLKD Jakarta Selatan menggunakan bus Kopaja 57 jurusan Kampung Rambutan – Blok M. Saya naik dari perempatan Mampang-Duren Tiga. Karena penuh, saya berdiri di depan, di dekat pintu depan.

Seperti biasa, si kondektur menarik ongkos dari para penumpang termasuk saya. Karena saya tak punya uang receh, saya membayar dengan uang pecahan Rp. 20.000. Ongkos bus jurusan itu adalah Rp. 2000, jadi seharusnya saya dapat kembalian sebanyak Rp. 18.000. Rupanya si kondektur belum punya kembalian, jadi dia pergi lagi untuk menarik ongkos dari penumpang lain.

Tak selang berapa lama, si kondektur kembali lagi ke bagian depan dan menengadahkan telapak tangan di depan saya dengan menggoyangkan tangan sehingga uang logam di tangannya bergemerincing, “cring cring cring”, tanda dia minta ongkos dari penumpang. Karena saya merasa telah membayar, saya diam saja. “Mungkin dia minta ongkos kepada orang di samping saya”, begitu pikir saya. Tapi si kondektur tetap bergeming, sampai dia bertanya kepada saya, “Udah bayar belum?”. Saya agak kesal karena selain telah membayar, seharusnya saya cepat mendapat kembalian sebanyak Rp. 18.000 tadi. Saya jawab, “Udah bang, kan tadi saya bayar 20.000″. Entah kenapa si kondektur agak marah karena dia menjawab dengan ketus, “saya kan cuma nanya, udah bayar apa belum”. “Ya udah kan udah saya jawab Bang”. Dia langsung ngeloyor pergi ke pintu belakang.

Sampai di PGC, Cililitan, bus berhenti sejenak. Tak disangka, ternyata sang supir dan kondektur turun dan digantikan oleh supir dan kondektur lain. Ganti personel rupanya. Bahasa sepakbolanya, “substitution”. Karena bus penuh, saya tetap berada di bagian depan bus dan tidak dapat mengamati dengan jelas apa yang terjadi di belakang.

Beberapa saat sebelum sampai di tempat saya turun, saya beringsut ke bagian belakang dan menemui si kondektur baru. Saya bilang, “Mas, saya belum dapat kembalian tadi”. Si kondektur memasang tampang tak bersalah dan menjawab “Wah, kalo kembalian mintanya sama kenek yang tadi Pak, saya baru narik ini”. Walah! Kacau urusannya.

Saya lalu mengobrol dengan kondektur ini. Katanya memang di Kopaja 57 berlaku sistem shift layaknya pegawai pabrik. Jadi 1 bus Kopaja dioperasikan oleh minimal dua tim (masing-masing terdiri dari seorang supir dan kondektur). Dalam sehari biasanya mereka beroperasi bergantian. Dan pergantian awak bus ini dilakukan di PGC atau di pertigaan Mampang-Duren Tiga. Kacaunya, dalam pergantian itu tidak ada koordinasi tentang ongkos penumpang, jadi bagi penumpang yang bernasib sial seperti saya ya harus merelakan kelebihan ongkos yang belum dikembalikan tadi.

Payah.

Bukan masalah uang yang saya persoalkan, tapi mbok ya agak profesional dikit gitu. Masa’ jadi kondektur nggak sedia uang receh untuk kembalian penumpang?

Ternyata kekesalan saya tidak berhenti sampai di situ. Saat akan turun, saya sudah bersiap di dekat pintu sekitar 500 m sebelum turun. Dan saya sudah bilang ke kondektur, “Kecamatan Bang”. Tapi bus tidak mengurangi kecepatan hingga melewati lokasi saya turun yang seharusnya. Saya harus bilang lagi ke kondekturnya “Kiri Bang!”. Baru deh si kondektur mengetuk-ngetuk kaca tanda berhenti ke supir. Akhirnya bus berhenti juga, tapi 200 meter dari tempat saya turun!

Semprul!

Itu bukan yang pertama saya mengalami kejadian tak mengenakkan dengan Kopaja 57. Sehari sebelumnya, saat pulang naik bus tersebut, saya sempat sport jantung karena si supir mengemudikan bus dengan kecepatan tinggi. Salip-menyalip dengan Kopaja lainnya. Mantan pembalap rupanya. Adapun si kondektur, bukannya mengingatkan supir agar jalan hati-hati, malah berteriak “Hantam aja spionnya! Hantam!!”

Para penumpang hanya bisa mengelus dada.

Nggak heran pesawat sering jatuh, kapal sering tenggelam, kereta sering tabrakan. Lha wong manusianya belum memahami betul arti keselamatan!

5 Tanggapan ke “Bus Kopaja yang menyebalkan!”


  1. 1 Hadi K.S- 21/12/2009 pada 11:21

    wah, ada yang lebih semprul bin borokokok, saya pernah naik p.19 dari mabes blok.m begitu saya bayar ke kenek, sang kenek berkata “ampe blok.m doang ya pak”, haah? dalam hati saya juga bingung, ngapain juga cape2 nyetop bis, tapi uang 2ribu rupiah yang harus melayang, yah, kalo gini sih mendingan jalan kaki aja!, tulisan jurusanya tn.abang – ragunan, tapi baru ampe blok.m aja udah abis! ini namanya gak professional bung! kita udah bayar mahal2 tp cuma sedeket itu! mending gua jalan kaki aja deh! armada p.19 yang lain pun juga begitu, semua bis p.19 yang ditunggu2 penumpangnya juga pada abis nyampe blok.m, kalo gini caranya mending ganti trayek aje bos! jadi tn.abang – blok.m! kan kasihan penumpang lain yang hanya bisa pulang naik p.19 ke arah cilandak tapi kok ampe blok.m doang ya udah abis? untung saya masih bisa ngakalin naik bis mana jadilah saya naik metromini 610 blok.m – pondoklabu, tapi resikonya kena 2ribu lagi, haaaah, semprul, untung duit gw lagi tebel2nye jadi kaga usah kuatir, lha kalo duit gw lg kempes? kan merugikan sekali!

  2. 2 Febri 21/12/2009 pada 11:57

    Wah emang udah kacau transportasi di Jakarta.

  3. 3 lemmot1me 21/04/2010 pada 22:27

    Saya pernah naik bus 66 dari terowongan dekat Ambassador, *kata temen saya itu terowongan casablanca*

    Ceritanya mau balik ke Blok M. Karena udah sore dan penumpangnya udah dikit, pas ditengah jalan entah dimana, saya diturunin. Dikasih duit serebu. Disuruh pindah ke bus laen. Wekss… jadi nge-bus lagi deh, bayar ongkos lagi.

    Emang ga ada koordinasi tuh. Beda sama bus kopata di Jogja. Kalo ditransfer, emang sih diburu2 gitu sama keneknya, tapi ga bayar lagi.

    Bukannya pelit atau apa, tapi pak sopir dan kenek semena2 sih nurunin orang sembarangan. Mentang2 mau pulang. Kalo ga mo narik, mbo yo dari awal2 saya naik gitu loh dibilang, “neng, bus nya mo pulang kok.”

  4. 4 Febri 22/04/2010 pada 08:56

    Hai Sar, thanks ya udah berbagi pengalaman, hehehe. Memang masih banyak yang perlu diperbaiki dalam sistem transportasi kita, bukan hanya infrastrukturnya tapi juga pelayanannya.

  5. 5 rofiq 23/04/2011 pada 14:41

    klo di jakarta emang sembarangan…..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Pengunjung Online

who's online

Jumlah Kunjungan

  • 167,953 kali

Kategori

Dilarang copy-paste sebagian atau keseluruhan tulisan/gambar di blog ini tanpa mencantumkan sumbernya


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.